Hygieia, Museum Vatikan

Hygieia, Museum Vatikan


Gorgon

A Gorgon (/ˈɡɔːrɡən/ jamak: Gorgon, Yunani Kuno: /Γοργώ Gorgṓn/Gorg) adalah makhluk dalam mitologi Yunani. Gorgon muncul dalam contoh-contoh awal sastra Yunani. Meskipun deskripsi Gorgon berbeda-beda, istilah ini paling sering mengacu pada tiga saudara perempuan yang digambarkan memiliki rambut yang terbuat dari ular hidup, ular berbisa, dan wajah mengerikan yang mengubah orang-orang yang melihatnya menjadi batu. Secara tradisional, dua Gorgon, Stheno dan Euryale, abadi, tetapi saudara perempuan mereka Medusa tidak [1] dan dibunuh oleh dewa dan pahlawan Perseus.


Hygieia, Museum Vatikan - Sejarah

Semuanya dimulai dengan Asclepius, Dewa Penyembuhan Yunani Kuno, yang selalu digambarkan membawa tongkat kayu dengan ular di sekitarnya.

Patung Asclepius, sekitar abad ke-2 SM, Museum Vatikan, Kota Vatikan

Di Yunani ular dikaitkan dengan kebijaksanaan, penyembuhan dan kebangkitan karena kemampuannya untuk melepaskan kulit lamanya setelah tumbuh menjadi yang baru. Ular yang tidak berbahaya bahkan disimpan di kuil yang didedikasikan untuk Dewa Penyembuhan, di mana orang sakit akan datang dan berharap untuk disembuhkan.

Dari zaman kuno inilah Tongkat Asclepius berkembang menjadi simbol dokter di Barat.

Simbol ini adalah bagian dari Bintang Kehidupan, yang ditemukan di ambulans dan mewakili layanan medis darurat di AS dan banyak negara lain.

Di antara putri Asclepius&rsquo adalah Hygieia, Dewi Kebersihan, yang namanya memberi kami kata modern &ldquohygiene.&rdquo Hygieia sering digambarkan membawa toples atau cangkir, dengan ular minum darinya.

Harapan Hygieia, abad ke-2 M salinan Romawi asli Yunani, c.360 SM, Los Angeles County Museum of Art

Cangkir dengan ular dikenal sebagai Mangkuk Kebersihan dan telah menjadi simbol apotek di sebagian besar negara barat, di mana ia mengidentifikasi apoteker dan toko yang menjual obat-obatan.

Putri Asclepius&rsquo lainnya adalah Panacea, yang namanya berarti &ldquopenyembuhan universal&rdquo dan masih digunakan sampai sekarang untuk berarti &ldquoa solusi untuk semua masalah.&rdquo Dia dianggap memiliki ramuan yang dapat menyembuhkan setiap penyakit, dan dalam arti itu dia mewakili ambisi obat&rsquo. Namun, tidak ada simbol untuk Panacea.

Simbol yang sering dikacaukan dengan Tongkat Asclepius adalah Hermes&rsquo Caduceus, tongkat dengan dua ular dan sayap di atasnya:

Karena Hermes adalah pelindung para pelancong dan pedagang, Caduceus-nya menjadi simbol perdagangan.

Itu tidak ada hubungannya dengan obat-obatan sama sekali sampai abad ke-19, ketika Angkatan Darat AS mulai menggunakannya pada seragam personel medisnya. Tidak jelas apakah ini hasil dari kesalahan atau pilihan yang disengaja. Bagaimanapun, itu menjadi salah terkait dengan obat-obatan dan kebingungan berlanjut hari ini.

Pada akhirnya, hanya ada dua simbol yang disepakati semua orang. Tongkat Asclepius, seekor ular melingkari tongkat sebagai lambang dokter, dan Mangkuk Hygieia, seekor ular yang minum dari cangkir sebagai lambang apoteker. Keduanya didasarkan pada ular tunggal, yang mewakili kebijaksanaan dan penyembuhan berkat kemampuannya mengubah kulit.


Warna Sejati: Tren Konservasi

Oleh Ivy Nguyen, angkatan 2013.

Di depan Lab Konservasi kami memiliki tiga tanda dengan kata-kata berikut dan definisinya:

Konservasi: Konservasi adalah perubahan yang disengaja terhadap aspek kimia dan/atau fisik benda budaya, terutama untuk menstabilkannya dan untuk memperpanjang keberadaannya.

Kelestarian: Pelestarian adalah perlindungan kekayaan budaya terhadap kerusakan dan kerusakan dengan memberikan perawatan pencegahan:

  • mengatur kondisi lingkungan
  • mempraktikkan prosedur penanganan dan pemeliharaan yang baik untuk penyimpanan, pameran, pengepakan, dan pengangkutan
  • mengendalikan hama
  • mempersiapkan keadaan darurat

Restorasi: Restorasi melibatkan prosedur perawatan yang dimaksudkan untuk mengembalikan kekayaan budaya ke keadaan yang diketahui atau diasumsikan—misalnya, mendekati penampilan aslinya—seringkali melalui penambahan bahan non-asli. Dalam praktik restorasi saat ini, semua tambahan dapat dilepas sepenuhnya.

Pengumpulan dan pengelolaan seni melibatkan interaksi yang kompleks antara tiga tujuan yang berbeda ini. Sementara perbedaan antara ketiga bidang ini tampak halus, kombinasi yang berbeda dari tujuan ini pada akhirnya akan menentukan bagaimana objek diperlakukan untuk mempertahankannya untuk generasi mendatang.

Interaksi antara konservasi, pelestarian, dan restorasi ini bervariasi—kadang-kadang secara dramatis—dari waktu ke waktu. Satu kasus terkenal di bidang patung marmer Yunani-Romawi—koleksi Vatikan—mewakili evolusi ini dengan baik.

Kisah Vatikan secara singkat disinggung dalam pameran “Warna Sejati”. Lama menjadi kolektor utama seni rupa, koleksinya dipimpin pada abad ke-18 oleh Johann Joaquim Winckelmann, yang menerbitkan bukunya yang berpengaruh “Thoughts on the Imitation of Greek Works in Painting and Sculpture” pada tahun 1755. Dalam buku ini, Winckelmann menyatakan bahwa patung marmer terbaik harus berwarna putih, yang menyebabkan penggosokan sistematis banyak bagian dalam koleksi dan menetapkan standar untuk diikuti orang lain.

Karena sebagian besar pekerjaan ini bertumpu pada seberapa "bagus" objek itu dibuat agar terlihat, praktik merawat objek-objek ini juga terkait erat dengan perubahan selera. Salah satu contoh bagus tentang bagaimana selera yang berbeda memandu tangan mereka yang merawat benda-benda seni adalah kasus Hope Hygieia, yang sekarang ada di Getty Museum. Ketika patung itu ditemukan pada tahun 1797, merupakan praktik populer untuk memulihkan patung kuno yang rusak tersebut dengan merekonstruksi bagian-bagian yang hilang pada marmer dan menempelkan potongan-potongan itu ke patung aslinya. Namun, pada tahun 1970-an, estetika museum yang berlaku adalah menampilkan potongan-potongan ini saat ditemukan — setiap restorasi modern dianggap sebagai pemalsuan kebenaran. Karena itu, banyak restorasi—termasuk Hope Hygieia—dihapus.

Tiga puluh tahun kemudian, para konservator dan kurator mulai menghargai upaya rekonstruksi ini sebagai bagian dari sejarah objek dan bekerja untuk memulihkan potongan-potongan patung yang direkonstruksi, yang telah diselamatkan ketika dipindahkan. Sejarah patung yang lebih rinci dapat ditemukan di situs Getty (http://www.getty.edu/art/exhibitions/hope_hygieia/).

Pemugaran rekonstruksi ini dilakukan dengan menggunakan metode yang mudah diidentifikasi dan dapat dibalik, yang mencerminkan tren saat ini dalam praktik museum. Dan meskipun keseimbangan antara restorasi, konservasi, dan pelestarian tetap berubah, keseimbangan itu juga berarti bahwa Anda tidak akan melihat patung asli dicat ulang dalam waktu dekat.

Bergabunglah dalam percakapan: haruskah kita mencoba mengembalikan karya seni ke keadaan aslinya, atau apakah perubahan sepanjang sejarah sama pentingnya? Apa pendapat Anda tentang melakukan restorasi dibandingkan dengan meninggalkan atau memperbaiki yang lama? Apa cara lain museum dapat mengilustrasikan atau melakukan perubahan ini berdasarkan teknologi baru?


Oracle dari Delphi

Situs pusat Delphi kuno terletak di dataran tinggi di sepanjang lereng Gunung Parnassus, yang meliputi Sanctuary of Apollo, lokasi Oracle kuno.

Delphi terkenal karena Oracle-nya, Pythia, seorang pendeta wanita di tempat kudus yang didedikasikan untuk Apollo. Apollo berbicara melalui Oracle of Delphi-nya, yang adalah seorang pendeta wanita di tempat suci di mana dia duduk di kursi tripod di atas jurang yang terbuka di bumi.

Duduk di atas celah di tanah, dia akan menjadi mabuk oleh uap, dan dia akan jatuh ke dalam trans, memungkinkan Apollo untuk memiliki rohnya. Dalam kondisi trans yang dipertahankan ini, dia bernubuat.

Saat dalam keadaan kesurupan, Pythia “ mengoceh,” dan para pendeta kuil menafsirkan ocehannya menjadi syair yang elegan. Terjemahan sering memiliki ambiguitas yang terintegrasi ke dalam jawabannya.

Telah berspekulasi bahwa efek orakular disebabkan oleh uap yang keluar dari jurang di batu.

Hari ini ada perdebatan apakah asap yang keluar dari bumi adalah etilena yang berbau harum atau hidrokarbon lain seperti etana, yang diketahui menghasilkan trans.

Yang lain berspekulasi bahwa pendeta menggunakan tanaman tertentu untuk menginspirasi ramalannya. Beberapa kandidat tanaman alternatif telah diusulkan, termasuk Cannabis, Hyoscyamus, Rhododendron, dan Oleander.

Oracle Delphic dikonsultasikan sebelum semua usaha besar, termasuk perang dan pendirian koloni.

Oracle Delphic juga dihormati oleh negara-negara yang dipengaruhi Yunani di sekitar pinggiran dunia Yunani dan kemudian beberapa Kaisar Romawi.

Pengaruh Delphi terkikis dengan munculnya agama Kristen di seluruh Kekaisaran Romawi, meskipun oracle tetap menjadi pusat keagamaan sampai abad ke-4.


Patung Asklepios

Patung Asklepios ini menggambarkan putra Apollo, dewa pengobatan Yunani, dan pelindung para tabib. Selama periode Helenistik, ada peningkatan realisme dalam seni patung, yang dicontohkan dalam patung ini.

Dia dipahat, berdiri dengan berat badan di kaki kanannya dan bersandar pada tongkatnya.

Tangan kanan Asklepios bertumpu pada pinggulnya yang menahan beban, yang diangkat dalam postur berlebihan di atas lipatan jubahnya yang terbungkus.

Arah yang kontras, yang disebut pose contrapposto, mewakili bidang tubuh dan lipatan tajam dari lipatan, menghasilkan putaran spiral dan menyampaikan rasa gerakan.

Asclepius adalah pahlawan dan dewa pengobatan dalam agama dan mitologi Yunani kuno. Meskipun Asklepios adalah putra dewa Apollo, daya tariknya bertahan hingga era Kristen. Beberapa putrinya antara lain:

  • Hygieia, yang namanya merupakan akar dari kata “Hygiene,” dewi kesehatan, kebersihan, dan sanitasi.
  • Panacea adalah dewi pengobatan universal.
  • Iaso adalah dewi penyembuhan dari penyakit.
  • Aceso adalah dewi proses penyembuhan.
  • Aglaea adalah dewi keindahan, kemegahan, kemuliaan, keagungan, dan perhiasan.

Dalam bentuknya yang tidak rusak, patung Asklepios akan membuatnya bersandar pada tongkatnya, dengan luka ular di sekelilingnya. Anda dapat melihat sisa-sisa ular dan tongkat di bagian kanan bawah pakaiannya.

Ular itu suci bagi Asklepios, dan tongkatnya, caduceus. Tongkat Asclepius, tongkat yang dililit ular, tetap menjadi simbol pengobatan hingga saat ini. Di bawah

Asclepius dengan tongkatnya yang dililit ular dari Museum Arkeologi Epidaurus

Tempat Suci Asklepieion

Tempat-tempat suci atau kuil-kuil penting yang didedikasikan untuk Asklepieion dapat ditemukan di banyak kota kuno Yunani. Rumah sakit Asclepios adalah salah satu tempat perlindungan paling penting di kota, dan banyak yang aktif selama ratusan tahun.

Ada dua langkah dalam proses perawatan Asclepeion. Yang pertama adalah tahap pemurnian, di mana pasien menjalani serangkaian mandi dan teknik pembersihan lainnya seperti diet terkontrol selama beberapa hari atau membersihkan emosi mereka melalui seni.

Pasien kemudian akan membuat persembahan ke kuil, dan imam akan memanjatkan doa untuk menenangkan pikiran pasien.

Langkah kedua adalah inkubasi atau terapi mimpi. Para pasien akan tidur di kuil untuk dikunjungi oleh dewa.

Pasien kemudian akan menerima perawatan yang tepat saat dalam mimpi atau menerima petunjuk dari dewa tentang langkah-langkah yang diperlukan untuk mengobati penyakit mereka.

Jika diperlukan, pasien juga dapat menceritakan mimpinya kepada pendeta atau penerjemah mimpi yang akan menafsirkan jenis perawatan yang diperlukan untuk pasien tersebut.


Restorasi patung di Aula Palazzo Nuovo

Gioco del Lotto-Lottomatica mendanai restorasi kelompok pahatan penting yang dipamerkan di Aula Palazzo Nuovo, salah satu kelompok yang paling mewakili seluruh koleksi Capitoline.
Benda yang akan dikerjakan adalah enam belas potong patung marmer di putaran, yang semuanya seukuran atau lebih, dan dua altar silinder berpola juga di marmer.

Ini adalah pekerjaan restorasi dengan komitmen dan minat yang besar, yang mengakses potensi penuh dari patung kuno yang sangat penting, menghilangkan lapisan tebal kotoran yang terakumulasi selama berabad-abad khususnya, akan mungkin untuk mengenali bagian kuno dari rekonstruksi modern dibuat pada abad ketujuh belas untuk mengisi bagian yang hilang.

Karya-karya yang diperkirakan berdurasi delapan belas bulan itu berbentuk situs terbuka, sehingga pengunjung dapat melihat secara langsung kemajuan pemugaran pada setiap tahap di museum itu sendiri.

Patung-patung itu dibeli di 1733 oleh Paus Klemens XII Corsini dengan hasil Permainan Lotre, dilembagakan oleh Paus sendiri, mencabut larangan dengan ekskomunikasi yang dikeluarkan oleh pendahulunya Benediktus XIII dan mengatur bahwa pendapatan digunakan untuk pekerjaan amal dan utilitas publik.
Untuk babak pertama, pengundian dilakukan di Piazza del Campidoglio, dengan partisipasi rakyat yang besar.
Pada tahun 1733, selain pembelian sejumlah besar 66.000 emas ecus dari koleksi barang antik pribadi terpenting yang ada di Roma, milik Kardinal Alessandro Albania, dengan hasil lot, dibiayai juga penyesuaian kembali bekerja sebagai ruang museum Palazzo Nuovo, di kaki gereja S. Maria di Ara Coeli.

Patung-patung yang akan direstorasi

-Patung Apollo Citaredo (inv. MC 0628)
-Patung Athena (inv. MC 0629)
-Bust of Trajan (inv. MC 0630)
-Patung Augustus (inv. MC 0631)
-Patung Hera (inv. MC 0632)
-Patung seorang atlet (inv. MC 0633)
-Patung yang disebut Mario (inv. MC 0635)
-Patung Romawi sebagai pemburu (inv. MC 0645)
-Patung seorang wanita Romawi, digambarkan sebagai Hygieia (inv. MC 0647)
-Patung Apollo (inv. MC 0648)
-Patung Pothos (termasuk MC 0649)
-Beberapa orang Romawi digambarkan sebagai Mars dan Venus (inv. MC 0652)
-Patung Muse (inv. MC 0653)
-Patung Athena (inv. MC 0654)
-Patung Zeus (inv. MC 0655)
-Patung Asclepius (inv. MC 0659)
-Dasar melingkar dengan keilahian (inv. MC 1995)
-Dasar melingkar dengan tempat pengorbanan (inv. MC 1996)

Permainan Capitol dan Lotto di Roma pada abad kedelapan belas

Pada abad-abad yang lalu, permainan lotre di Negara Bagian Gereja menikmati keberuntungan yang beragam. Sepanjang abad keenam belas dan sebagian dari abad ketujuh belas, lotere, seperti semua permainan yang berhubungan dengan nasib, dianggap sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip moralitas Katolik karena mendorong manusia untuk mengandalkan kesempatan daripada keterampilan pribadi mereka sendiri untuk meningkatkan keberadaan mereka. , tidak mengikuti desain dari Penyelenggaraan Ilahi. Penghakiman dalam beberapa periode begitu negatif sehingga para paus merasa berkewajiban tidak hanya untuk melarang permainan undian dalam bentuk apa pun, tetapi juga untuk memerintahkan hukuman yang paling berat bagi para pelanggar, yang berada di bawah Benediktus XIII (1725) dengan ekskomunikasi.

Meskipun demikian, permainan terus memiliki popularitas besar di antara semua kelas sosial sehingga Paus Klemens XII Corsini, yang naik tahta kepausan pada tahun 1730, melihat perlunya untuk memeriksa kembali seluruh masalah dengan semangat pragmatis, dengan perhatian khusus pada keuangan. aspek (dia pernah menjadi Kardinal Bendahara Kamar Apostolik, setara dengan Menteri Keuangan kita).

Paus memperkirakan bahwa larangan permainan lotere telah menyebabkan ketidakpuasan rakyat yang cukup besar dan arus keluar modal yang tidak terkendali ke negara-negara di mana perjudian diizinkan. uang, tanpa menggunakan bentuk perpajakan tambahan atau lebih mahal dari yang sudah ada. Untuk membuatnya dapat diterima, bahkan untuk moralitas Katolik kontemporer, ia memerintahkan agar hasil dari permainan lotere digunakan secara eksklusif untuk pekerjaan amal (mendukung pembangunan misi apostolik, pemulihan dan pengelolaan rumah sakit dan tempat ibadah, sedekah kepada yang membutuhkan, dll.) dan dari utilitas publik.

Jadi, pada tanggal 9 Desember 1731, sebagai bagian dari intervensi untuk mendukung keuangan publik, permainan lotre secara definitif dilembagakan, dan larangan dengan ekskomunikasi yang dikeluarkan oleh pendahulu Paus Benediktus XIII dicabut.

Hebat adalah keberhasilan, seperti yang ditemukan dalam kronik waktu itu, dari undian pertama yang berlangsung pada 14 Februari 1732 di Piazza del Campidoglio. Begitu besar arus masuk orang sehingga alun-alun tidak dapat menampung semua orang yang melihat, yang berkumpul di sepanjang garis akses dan menduduki jalan akses ke bukit di lereng.

Keberhasilan permainan itu langsung dan abadi, memungkinkan pundi-pundi kepausan untuk membuang sejumlah besar uang untuk digunakan untuk tujuan institusional.
Ketersediaan keuangan yang tiba-tiba ini memungkinkan Paus Klemens XII, yang disarankan oleh keponakannya, Kardinal Neri Corsini, untuk mempromosikan renovasi gedung Roma dalam beberapa tahun dengan pembangunan, antara lain, fasad S. Giovanni di Laterano, Palazzo della Consulta di Quirinale, Air Mancur Trevi, fasad S. Giovanni dei Fiorentini.

Fakta bahwa pengundian dilakukan di Piazza del Campidoglio, dengan partisipasi rakyat yang begitu besar, mendorong Paus Klemens XII untuk mengalihkan perhatiannya juga ke bukit Capitoline dan bangunan-bangunan monumentalnya. Secara khusus, sejak tahun 1733, diperintahkan agar Palazzo Nuovo, yang berdiri di kaki gereja S. Maria di Ara Coeli, dibebaskan dari fungsi administratif sebelumnya, akan digunakan sebagai Museum Capitoline. Untuk tujuan ini, koleksi pribadi barang antik yang paling penting di Roma, milik Kardinal Alessandro Albani, dibeli dengan harga 66.000 ecus emas.

Ini adalah ukuran nilai simbolis dan budaya yang signifikan yang bertujuan, di satu sisi, untuk memberikan negara dan kenikmatan publik dari warisan tak ternilai yang berisiko dispersi, di sisi lain untuk mempromosikan citra Roma dan berkontribusi pada pertumbuhan kepekaan. artistik dan historis untuk generasi baru.

Pembelian koleksi Albani dan karya adaptasi Palazzo Nuovo ke fungsi museum memerlukan upaya keuangan yang cukup besar, didukung penuh oleh hasil dari permainan lot, yang digunakan sejak saat itu terus menerus untuk perolehan, perlindungan, konservasi dan penggunaan warisan sejarah-artistik dan lebih khusus lagi arkeologi (pemugaran Arch of Constantine, misalnya).

Pentingnya hasil dari permainan lotre untuk intervensi nilai budaya tidak akan gagal dalam dekade berikutnya, melainkan akan dikonsolidasikan dengan perusahaan museum luar biasa baru yang dipromosikan oleh para paus di Roma: institusi Museum Vatikan pada tahun 1771.

Harus diingat, akhirnya, sebagai contoh yang ditawarkan oleh Roma, itu segera diadopsi bahkan di luar batas negara. Di Inggris, pada kenyataannya, pada abad kesembilan belas, hasil dari lotere digunakan untuk membuat British Museum sementara di Amerika Serikat mereka dimaksudkan untuk pendirian universitas Yale, Harvard dan Princeton.


Kesimpulan

Seperti halnya orang Yunani, orang Romawi tidak memiliki pelatihan atau kualifikasi medis resmi dan tidak ada pendekatan medis ortodoks. Metode dan bahan tergantung pada praktisi individu yang mendapatkan kepercayaan dari pasiennya melalui akurasi diagnosis dan prognosis kasus per kasus. Para ahli medis Romawi mengikuti dari para pendahulu Yunani mereka, mendokumentasikan tradisi sebelumnya untuk kebaikan anak cucu dan membuat kemajuan, terutama dalam ilmu bedah dan anatomi. Masih ada banyak kesenjangan pengetahuan dan lebih dari beberapa kepercayaan yang salah, tetapi para dokter dan sarjana kedokteran Romawi telah membuat kemajuan sedemikian rupa sehingga pendekatan mereka akan tetap menjadi yang dominan selama satu milenium berikutnya.


Diptych Symmachi-Nicomachi

Diptych konsuler Rufus Gennadius Probus Orestes, 530 M, ukiran gading. Museum no. 139-1866, © Museum Victoria dan Albert, London

Daun Symmachi berasal dari diptych, meskipun bukan daun konsuler. Potongan pendamping sekarang berada di Museum Cluny di Paris, dan seperti diptych konsuler, kedua panel memiliki prasasti yang diukir pada plakat di bagian atas, yang dengannya mereka dapat diberi tanggal dengan cukup akurat. Ini merujuk pada Symmachi dan Nicomachi, dua keluarga bangsawan Romawi yang menonjol pada akhir abad ke-4, dan diptych memberikan kesaksian tentang semacam aliansi antara keluarga, kemungkinan besar pernikahan seperti yang terjadi antara 393 hingga 394 dan pada 401. Atau diptych mungkin telah disajikan untuk merayakan kesempatan di mana wanita dari keluarga terhormat ini mengambil imamat dari empat kultus Ceres, Cybele, Bacchus, dan Jupiter.

Subyeknya tentu terkait dengan empat kultus ini, yang terkenal di Roma hingga awal abad ke-5, dan terkenal dengan ritual pengorbanannya. Panel Symmachi menunjukkan seorang pendeta wanita di depan altar, mengambil jagung dupa dari sebuah kotak untuk ditaburkan di atas api. Kepalanya diikat dengan ivy, tanaman Bacchus, dan dia berdiri di bawah pohon ek, suci bagi Jupiter. Di depannya berdiri seorang anak laki-laki yang memegang toples anggur dan semangkuk buah atau kacang. Pendeta di daun Nicomachi membalikkan obor pemakaman kultus Eleusinian di Ceres, di bawah pohon pinus tempat menggantung simbal - pohon dan instrumen suci bagi kultus Cybele, 'Magna Mater'.

Subyek, gaya ukiran, dan komposisinya jelas kembali ke model Yunani sebelumnya, terutama model Yunani. Prototipenya mungkin adalah salinan Romawi atau adaptasi dari aslinya Yunani, seperti relief Amalthea pada awal abad ke-2. Relief di Aquileia menunjukkan adegan pengabdian yang serupa, kepada Priapus, dewa kesuburan. Pelayan muda yang memegang mangkuk, altar persegi, dan pohon ek muncul dalam relief ini 300 tahun sebelum produksi diptych Symmachi-Nicomachi.

Diptych lain, dibuat sekitar 400, juga bersaksi tentang keinginan untuk menyalin model antik: itu menunjukkan Asclepius, dewa pengobatan dan penyembuhan, dan putra kecilnya Telesphorous kebalikannya adalah putrinya Hygieia, dewi kesehatan, dengan Eros berlari ke arahnya kaki. Pemahat diptych ini memiliki banyak model untuk dipilih karena patung Asclepius umum di zaman kuno: yang paling terkenal berdiri di kuil di pulau di Tiber yang suci baginya.

Diptych Asclepius-Hygieia sangat menarik karena pelat untuk prasasti di bagian atas daun dibiarkan kosong: oleh karena itu mungkin diptych ini tidak pernah benar-benar disajikan. Jika demikian, ini menunjukkan bahwa beberapa diptych tidak dibuat berdasarkan pesanan tetapi nama-nama orang diisi setelah dijual.

Namun demikian, fakta bahwa diptych saat ini dimodelkan pada karya-karya yang berusia ratusan tahun harus menjadi cerminan selera para pematung. Gaya diptych ini secara sadar kuno, bahkan sampai batas yang dipelajari. Lalu mengapa ukiran gading neo-klasik ini tiba-tiba muncul pada akhir abad ke-4 di Roma?


Patung Terpsichore.

14. Status della musa Tersicore con testa non pertinente (gbr. 34)

Sul ritrovamento e la vendita della statua cfr. SM 7 tra il 1777 ed il 1778 venne restaurata da Gaspare Sibilla (parte degli arti, della cetra e dei seni) e tra il 1798 ed il 1815 venne trasferita a Parigi da Napoleone. La testa — antica ma non pertinente — nel 1779 venne integrata dal Tenti della corona e delle ciocche sulle spalle e forse corrisponde a quella comprata da Angelo Toni l'anno presedente. Tersicore — vestita di chitone e di himasi — seduta su di una roccia ed colta nell’atto di suonare la cetra la presente replica, di età adrianea, si ispira certamente ad un prototipo greco orientale (rodio?) del II detik. A. C. Il recente rinvenimento di una replica della prima metà del I sec. D. C. nella Domus Aurea (cfr. Arciprete, in bibl., hlm. 67— 72) berkontribusi jauh cadere l'ipotesi della Türr (dalam bibl.), che riteneva l'opera un prototipo creato in età adrianea. La testa, integrata e non pertinente, sembra però coerente al modello, risultando una replica — all'incirca coeva al corpo — forse di una delle muse del noto gruppo ellenistico (metà del II sec. a. C.) attribuito allo scultore Philiskos di Rodi (lih. GS 53).

Inv. 308
G. Lippold, Die Skulpturen des Vatikanischen Museums, III 1, Berlin 1936, hal. 65 n° 517 tavv. 7 e 9 (lih. G. Lippold, Die Skulpturen des Vatikanischen Museums, Berlin 1956, hal. 312 n° 47 tav. 139)
Lippold, Handbuch P. 302
W.Helbig, Führer durch die öffentlichen Sammlungen klassischer Altertümer in Rom, I, (4 ed.), Tübingen 1963, 84
K.M.Turr, Eine Museengruppe hadrianischer Zeit. Die sogenannten Thespiaden, Berlin 1971 (Senin Artis Rom. X), hlm. 21— 23 e 65 n° 1 tav. 13
F. Ghedini, dalam ASAtena, 63, 1985, hal. 161
C. Pietrangeli, La provenienza delle sculture dei Musei Vaticani, di dalam Bollettino dei Monumenti, Musei e Gallerie Pontificie, VII, 1987, hlm. 115— 149: hlm. 127 n° 517
R. Neudecker, Die Skulpturen-ausstattung römischer Villen di Italien, Mainz am Rhein 1988, hal. 230 n° 66, 5
G. Arciprete, dalam BollArch, 9, 1991, hlm. 68 e 70
L.Faedo, LIMC VII, hal. 999 n° 240
J.Lancha, LIMC VII, hal. 1021 n° 80
Leander Touati, Patung Kuno di Museum Kerajaan. Koleksi Abad Ke-18 di Stockholm, I, Stockholm 1998, hal. 133 nota 13.
Sulla testa cf. B. Palma, dalam MNR, I/6, hal. 59.

517. Patung einer Muse ('Terpsichore') (Taf. 7 u. 9)

H.1,39 m. Marmor des Körpers feinkörnig (pentelisch), durch Putzen weißer als bei anderen Patung der Gruppe, der des Kopfes heller.

Ergänzt: der ganze Kranz, Stück im Haar über dem r. Ohr (Gips), vorderer Teil der Nase, Schulterlocken, Enden der Haare darüber und hinten herum (Haarknoten alt), Hals, Lockenenden auf den Schultern, Knöpfe auf den Schultern mit Gewand darum, Spitzen beider Brüste, Brüstedenz Arm von Mitte des Oberarms an, l. Unterarm, soweit nackt, mit Tangan, vorderes Horn der Leier und Oberteil des hinteren mit Stütze, Stück im l. Knie außen, einzelne Faltenrücken, fast der ganze l. Fuß mit Gewandrand. Unbedeutende Bestoßungen.

Abgearbeitet die Schläfenlöckchen. Das Ganze stark geputzt, besonders auch das Gesicht.

S. 66 Der untere Teil der Plinthe war eingelassen, er tritt teilweise zurück gegen den oberen dieser ist als Felsgrund gebildet Fuß und Gewand sind gegen ihn durch eine Rille abgesetzt (vgl. 503 usw.).

Die Muse trägt einen Unterchiton mit Knopfärmeln, einen Oberchiton mit (richtig ergänzten) Schulterknöpfen, der von einem bandartigen Gürtel mit Knoten (die Enden abgesetzt, wohl als Fransen gedacht) her über die Beine gelegt ist, wobei sich der obere Teil zusammenrollt an der l. Seite sind zwei Ecken mit Quasten sichtbar. Vom Rücken her fällt ein anderer Teil über den l. lengan ober. Enganliegende Schuhe, durch die die Zehen sich abzeichnen, mit abgesetzten Sohlen. Der Sitz ist wieder als Fels gebildet. Derl. Fuß ist vor- und etwas höher aufgesetzt, der Oberkörper ist aufrecht, die l. Schulter gehoben, der r. Arm griff über die Brust zu der von der L. gehaltenen Schildkrötenleier auf deren mittlerer Spitze zwei Ansätze, offenbar von den Fingern der r. Tangan (vgl. die Replik Gal. d. Cand.).

Perang Der Kopf, im Gegensatz zu den übrigen Gliedern der Gruppe, mit der Statue aus einem Stück gearbeitet, wie der erhaltene nackte Teil des Bruststücks beweist. Er war zu seiner L. gewendet. Der jetzt aufgesetzte Kopf gehört nicht zu (vgl.u.).

Von den Repliken ist die wichtigste die Statuette der Gal. D. Cand. 182, weil sie den antiken Kopf hat dieser ist Wiederholung des der Muse Nr. 505 aufgesetzten, der aber, obwohl wahrscheinlich mit der Gruppe gefunden, schwerlich der unseres Exemplars ist (vgl. o. S. 35). Die übrigen Repliken lehren wenig: es sind Madrid H. 52 und 53 (EA. 1562 und 1563, an letzterer die Leier erhalten, etwas abweichend) und Oxford M. 31 (Clarac, Musée 519, 1063 a). Eine ganz umstilisierte und verdorbene Replik ist auch wohl Ermitage K. 323. Die Leier genügt nicht, um die traditionelle Benennung zu rechtfertigen. Die Hauptansicht der Statue ist von der Vorderseite, wo der Querwulst des Mantels stark zur Wirkung kommt, doch ist auch die Ansicht von S. 67 der L. der Statue, zu der Oberkörper gedreht ist und und und und wo die Falten be

Der aufgesetzte Kopf (Kinn-Scheitel 0,21— 0,22 m) hat gleichmäßig vom Scheitel ausgehendes Haar, hinten mit Knoten. Seine Wendung ist nicht sicher zu bestimmen (der Mund ist l. breiter als r.). Das Haar ist seitlich stark gebohrt. Der Kopf zeigt allgemein den Stil der Mitte des 4. Jh. Eine nähere Bestimmung ist nicht möglich.

Für Stil, Herkunft usw. vgl. kamu Inskrif Pius VI. an der Plinthe r.

Visconti, Mus. Pio-Clementino I Taf. 21 (ed. Rom) Taf. 20 (ed. Mil.) Opere varie IV 441 Nr. 307.
Massi 186 No. 43.
Zoega, Welckers Zeitschr. 318.
Piroli-Piranesi, Musée Napoléon I Taf. 33.
Bouillon, Musée des antiques I 38.
Hirt, Bilderbuch Taf. 29, 8.
Pistoiesi V Taf. 93 l. No. 1119.
Clarac, Musée 517, 1056.
Gerhard-Platner 216 Nr. 18.
Braun, Ruinen u. Museen 388 V.
Bie, Die Musen 63 ML. II 3279 Ab. 11 d.
Amelung, Dasar 39.
Helbi 3 265.

foto.:
Inst. Neg. 1401 (Kopf von halbr.).
Al. 6618 6621 (mit 515/6).
Dan. 1420 2251 (Kopf von halbr.) a. 1366.
Mosk. 416.
Inalt. 825 (St.) 1943 (K. r. Pr.).
Brogi 8325.
Sommer 3420 1758 (mit 515/6).

Abg.: München, Kunstakademie.

Die sieben Musenstatuen Nr. 499, 503, 505, 508, 511, 515, 517 dan Apoll No. 516 wurden Ende 1774 zusammen mit der Athena Mus. Chiar. 354, oleh 'Somnus' Gal. D. Cand. 149 A, oleh liegenden Jüngling Gal. D. St. 397, einer Replik des 'Periboetos' (wo?), einer Hygieia (?, Chiaram. 83?), einer Gruppe von Silen und Bacchantin (Br. Mus. 1658), dem Torso einer weiblichen Gewandstatue (wo?) und einer Anzahl Hermen (vgl. zu 531) gefunden bei einer Ausgrabung des Domenico de Angelis auf dem Grundstück des GA De Mattias in der Contrada Carciano, südlich von Tivoli, wo man die Villa des M. Brutus, Vaters des Redners ansetzt nördlich davon gelegenen 'Villa des Cassius'). Erst bei Fortsetzung der Grabung wurde die 'Urania' Gal. D. St. 270 dan Patung gyptischen Stils (wo?) gefunden. Die Statuen waren angeblich abwechselnd mit den Hennen aufgestellt. Die Musen wurden am 9. Mai 1775 di den Vatikan geschickt. Unter Napoleon waren die Patung di Paris.

S.68 Ringkasan v. 1775 dari L. Borsari, BulICom. 26, 1898, 33 f.
Penjelasan singkat, erwähnt von Lanciani, RendLinc. 1897, 6 dst.
Antologia Romana I, 1775, Febraio, 269 f.
Cabral del Re, Delle Ville … di Tivoli (1779) 165.
Visconti, Mus. Pio-Clementino I 13 (Rm) 93 (Mil.). Operasi Varie II 441 f.
Bulgarini, Notizie storiche intorno alla città di Tivoli 109. 118.
Benndorf u. Schone, Ant. Bildw. des lateran. Museum 84.
Helbig 3 I S. 171.
Ashby, BSR. III 191 dst. La Via Tiburtina (Atti e Mem. della Soc. Tiburtina di Storia e d'Arte II— VIII) 168. 176 ff.

Die Musen gehören auch nach Material und Arbeit zusammen. Die Köpfe waren aus feinerem Marmor eingesetzt, außer bei Nr. 517. Die Rückseiten sind vernachlässigt. Die Plinthen waren eingelassen, auch bei den Sitzenden, wo die Plinthenoberfläche als Felsboden gebildet ist. Auch stilistisch bilden die Musen eine Einheit. Sie gehören zu einer Gruppe, von der auch in andern Fällen mehrere Glieder in Kopien zusammen gefunden sind, doch ist die vaticanische Serie die vollständigste. Die ursprüngliche Zusammengehörigkeit, die stilistische Übereinstimmung ist für oberflächliche Betrachtung nicht so leicht kenntlich, weil der Künstler die einzelnen Musen verschieden zu charakterisieren und äußerlich in Tracht, Haltung, Drapierung möglichst zu differenzieren gewußt hat. Gemeinsame Züge sind die Proportion mit dem hochsitzenden Gürtel, die zierlichen Köpfe, das Verhältnis der sehr real stofflichen, als wirklich übergezogen wirkenden Gewänder zum Körper, einzelnes wie die Falten an den Brüsten usw. Während Visconti die Gruppe auf die Musen des Philiskos zurückführen wollte, Amelung früher an die ‘Thespiaden des Praxiteles’ (die so in der Überlieferung nicht vorkommen) gedacht hat, hat er zuletzt die zeitliche Ansetzung richtig gegeben: etwa eine Generation nach Praxiteles. Man vergleiche etwa die frühpraxitelisch ponderierte Muse der Basis von Mantinea (Athen NM. 216 Mitte) und die spätpraxitelisch rhythmisierte kleine Herculanerin mit der lysippischen ‘Leichtigkeit’ der Polyhymnia die Thaleia mit der Sitzenden von Mantinea und der ‘Nymphe’ Belv. 7. Die Vereinheitlichung der Faltenzüge bei der ‘Polyhymnia’, die Spannungen des Stoffes an ihrem r. Arm, die Mantelwülste bei 511 und 517 weisen auf die Kunst S. 69 des 3. Jh. Der Künstler läßt sich vorläufig nicht bestimmen. Das Material war eher Bronze als Marmor.

Zur Gruppe gehört offenbar noch eine nur in einem fragmentierten Exemplar erhaltene Sitzende (Thermenmus. Lud. Sehr. Nr. 2). Ob noch eine neunte Muse vorhanden war oder ob es, wie für Athen bezeugt ist ( Gruppe, Griech. Mythol. 1077 Anm. 1 Nr. 5) nur acht waren, ist fraglich. Die von Amelung dazu gerechnete mit dem Fell (vgl. unten Croce Greca 571) stammt wohl aus derselben Zeit, hat auch manche Verwandtschaft, aber doch wohl einen andern Charakter. Spätere Erfindungen sind offenbar die mit der Madrider Wiederholung der Gruppe zusammengestellten Musen EA. 1558 und 1568. Sicher nicht zugehörig ist der mit unseren Kopien zusammen gefundene Apoll (Nr. 516). Auch einzelne Köpfe hat man, ohne sichere Begründung, der Gruppe zugewiesen, so Glypt. Ny Carlsberg 327( Arndt, La Gl. N. C. 144).

Äußerlich durch Attribut bestimmt charakterisiert ist nur die ‘Melpomene’ Nr. 499, wohl auch die Muse der Komödie (503), deren Maske ausgezeichnet zur Komposition paßt. Andere haben nach alter Art Musikinstrumente (511. 517). Die Attribute wechseln z. T. in den Kopien (vgl. zu 503. 505), daher ist die Schreibtafel bei 515 nicht für das Original gesichert. Ohne Attribut ist die ‘Polyhymnia’ 508. Die ursprüngliche Komposition ist kaum wiederzugewinnen. Die Felsplinthen der Sitzenden, der Fels als Stütze von 499 weisen vielleicht wie bei den gleichzeitigen Niobiden auf einen gemeinsamen Felsboden. Auch die Musen können auf verschiedenem Niveau gestanden haben. Einzelne Figuren sind sichtlich nach einer Seite ‘offen’ (503. 517), was auf ihre Stellung innerhalb der Gruppe deutet. Eine strenge Symmetrie, etwa mit je einer stehenden zwischen zwei Sitzenden wäre wohl zu unlebendig für die Zeit. Die Kopien waren nach dem dekorativen Geschmack der römischen Zeit in Nischen aufgestellt. Sie sind anscheinend attische Arbeit, trotz der Frische der (meist verkannten) Ausführung vielleicht erst aus dem 2. Jh. n. Chr. Die Originalgruppe stand wohl noch damals im griechischen Osten.

S. 70 Burckhardt, Cicerone 459 b.
Amelung, Basis des Praxiteles 31 ff. bei Helbig 3 171 ff. und Nachtr. II 470.
Klein, Praxiteles 227 Anm. 1.
W. Riezler u. Sieveking, MJb. III 4 VI 8.
Arndt, EA. VI 14 ff.
L. Kjellberg, Tidskrift för Konstvetenskap 1920, 46.
Lippold, RM. 33, 1918, 92 Kopien 169.
Hekler, AA. 1928, 260.
Lawrence, Later Greek Sculpture 17. 107.
Horn, RM. Erg.-H. 2, 15 Anm. 3.
M. Mayer, PhW. 1932, 783 RE. XVI 740 f.
Rizzo, Prassitele 98.
Neugebauer, DLZ. 54, 1933, 1664 (Wiederholung in Catania).
Weiteres zu den einzelnen Statuen.